Cari Blog Ini

Kamis, 27 Oktober 2016

Alamku Agamoma Terinspirasi Di Hati



Pemandangan alam ufuk timor agadide"dari halam gereja katolik dauwagu ,ketika senja sore hari.ist


(Puisi)-Setiap pagi kubukakan jendelah kamarku,
Dan aku melihat indahnya alam Agamoma,
Daun pepohonan bergoyang gemulai,
Tiupan angin perlahan seolah melambai-lambai.
 Saling menyapa dalam suara melodi angin.

Begitu sejuk udara di pagi hari yang ku teguk.
 Burung burung pun berkicau riang menghiasi alam agamoma.
 Menyambut sang surya di ufuk timur DAKABO.

Sungguh kau terbuai dalam sinaran matahari pagi suasana yang indah.
 Saat aku berdiri di bukit gunung YIMUTI .

Melihat indahnya pemandangan alam Agamoma
Sungguh keindaan alam yang menakjubkan,
Membuat setiap mata terpesona,saat menyaksikan,
Sungguh keindaan alam yang menakjubkan
Tak ada yang menciptakan kecuali Tuhan.

Hijaunya tumbuh tumbuhan sungguh sebagai paru paru alam.
Membuat sejuk dan segar penghuni lingkungan,rakyatnya pun ramai dan sopan.

Menyebarkan keindaan alam yang nyaman,
Menyelimuti lingkungan dengan kabut kedamaian,
Indah tebing yang mengalirkan pamcaran mengairi sungai_sungai,yang berbatuan .
Kalipun kabur dan banjir itulah kali AGA.

Menciptakan alun -alunan di setiap pericikan berpadu dlm dasarnya air yang mencium berbatuan.
 Terimakasih Tuhan dengan semua yang kini ku rasakan,
Atas keindaan alam AGAMOMA yang kau ciptakan sungguh memang engkau yang ada yang tandingi .

 Lewat puisi tentang alam AGAMOMA ini.
Aku tuliskan melupakan ekspresi jiwa yang ingin kau ungkapkan rasa syukur yang besar kepada Tuhan .
Atas keindaan alam yang Dia ciptakan untuk kami.








Nabire-Kampung Harapan 28 Oktober 2016
Karya By :Iche Kogopa

Alamku Agamoma Terinspirasi Di Hati



Pemandangan alam ufuk timor agadide"dari halam gereja katolik dauwagu ,ketika senja sore hari.ist


(Puisi)-Setiap pagi kubukakan jendelah kamarku,
Dan aku melihat indahnya alam Agamoma,
Daun pepohonan bergoyang gemulai,
Tiupan angin perlahan seolah melambai-lambai.
 Saling menyapa dalam suara melodi angin.

Begitu sejuk udara di pagi hari yang ku teguk.
 Burung burung pun berkicau riang menghiasi alam agamoma.
 Menyambut sang surya di ufuk timur DAKABO.

Sungguh kau terbuai dalam sinaran matahari pagi suasana yang indah.
 Saat aku berdiri di bukit gunung YIMUTI .

Melihat indahnya pemandangan alam Agamoma
Sungguh keindaan alam yang menakjubkan,
Membuat setiap mata terpesona,saat menyaksikan,
Sungguh keindaan alam yang menakjubkan
Tak ada yang menciptakan kecuali Tuhan.

Hijaunya tumbuh tumbuhan sungguh sebagai paru paru alam.
Membuat sejuk dan segar penghuni lingkungan,rakyatnya pun ramai dan sopan.

Menyebarkan keindaan alam yang nyaman,
Menyelimuti lingkungan dengan kabut kedamaian,
Indah tebing yang mengalirkan pamcaran mengairi sungai_sungai,yang berbatuan .
Kalipun kabur dan banjir itulah kali AGA.

Menciptakan alun -alunan di setiap pericikan berpadu dlm dasarnya air yang mencium berbatuan.
 Terimakasih Tuhan dengan semua yang kini ku rasakan,
Atas keindaan alam AGAMOMA yang kau ciptakan sungguh memang engkau yang ada yang tandingi .

 Lewat puisi tentang alam AGAMOMA ini.
Aku tuliskan melupakan ekspresi jiwa yang ingin kau ungkapkan rasa syukur yang besar kepada Tuhan .
Atas keindaan alam yang Dia ciptakan untuk kami.








Nabire-Kampung Harapan 28 Oktober 2016
Karya By :Iche Kogopa

Rabu, 26 Oktober 2016

Pengalaman Adalah Guru Terbaik Untukku.


 foto pibadi  ("geradus nakapa")


(Puisi )_Jika anda adalah lautan dan aku adalah gelombang.
Jika anda adalah warna dan aku adalah tinta
Anda adalah lampu dan aku adalah mencobah.

Anda adalah menasegatiku dan aku adalah menerima.
Anda adalah untuk ku aku adalah untuk Mu

Namun,, hari yang lalu adalah pengalaman.
Kemaring adalah demi untuk hari ini,
Hari ini adalah demi untuk hari esok

Dan hari esok adalah demi kesiapan untuk hari menanti.
Bagimana gelombang terpisa dari lautannya.

Bagimana tinta berpisa dari warnyanya
 Bagaimana bisa dan menyapa cara mencoba untuk mati lampu.
Di mana aku mempelajari klo berpisah dari anda atau anda pergi.
Andai kata anda dan saya di jadikan temani atau keluarga yang sahabat.

Sunyi menjadi sepi ,
lapar menjadi kenyaan
Gagal menjadi brahsil
Dan tak mampu menjadi mampu
tak mungkin menjadi mungkin
lapar menjadi kenyaan                   
Dan inggin menjadi sukseskan.






Kodam 26/Oktober/2016.

Karya By "Geradus Nakapa...?

Selasa, 25 Oktober 2016

ORANG MEE DALAM BAHAYA YANG BESAR


Ilustrasi foto;bapak Yusuf Kobepa intelektual muda suku mee


(Opini)-,Beberapa facta tentang factor penyebab kematian masyarakat Suku Mee di masa lalu dan kini, sebelum masuknya agama dan pemerintahan maupun sesudahnya di uraikan sebagai berikut:

 I. Di masa lalu sebelum agama dan pemerintah hadir dalam kehidupan suku Mee masyarakat suku Mee hanya mengenal factor penyebab kematian itu hanya melalui beberapa hal sebagai berikut:

 1. Lanjut Usia 2. Perang adat 3. Sakit atas penyakit tdk menular spt beri-beri dan kusta dan 4. Dimi paa, Onee dou, Umaa/Umaa kopai (kematian atas suruhan roh jahat hanya kepada orang yang tidak di sukainya). 

Di masa itu kematian masyarakat Suku Mee di setiap harinya jarang di temui bahkan sampai satu bulanpun karena itulah pada awal masuknya injil dan pemerintahan belanda ada pemeriksaan kesehatan di biak sebelum menuju ke wilayah suku Mee yang dianggap wilayah yg sudah bebas dari penyakit menular di masa itu.

 II. Setelah masuknya injil dan Pemerintahan Belanda di daerah Meeuwo, sentuhan pelayanan kepada masyarakat Suku Mee di masa ini cukup baik sehingga kematianpun masih tak ditemukan lagi dan hubungan antara masyarakat dan pemerintahan belanda pun masih sangat erat. 

III. Setelah itu sejak Tahun 1963 Pemerintahan di tanah papua di ambil alih oleh Pemerintahan Indonesia maka sejak itulah masyarakat Suku Mee mulai mengenal kematian orang Mee pada setiap harinya. Meningkatnya kematian (korban) orang Mee di setiap harinya sejak itu terjadi melalui beberapa model sebagai berikut :
 1. Pembunuhan melalaui operasi militer secara terbuka yang menewaskan puluhan ribu orang Mee sejak Tahun 1963 sampai saat ini. 

2. Maraknya penyebaran Ilmu hitam (jin, ilmu santet, ilmu gaib, penyamun, ilmu Meeno/Tubakaga/Aakaga, dll) yang ujung-ujungnya meminta darah manusia, ini sdh mulai berjalan sejak Tahun 1963 sampai saat ini sekalipun susah di bhuktikan namun sedang merengkut puluhan ribu nyawa manusia dan ini sedang menjadi rahasia umum saat ini. 

3. Pembiaran penyebaran penyakit menular yang sangat luar biasa, spt: Spillis, TBC, dan terakhir saat ini penyakit HIV/AIDS tanpa penanganan yang serius dan cepat dari Pemerintah Indonesia yang menyebabkan Ratusan ribu nyawa orang mee telah meninggal sejak Tahun 1963 hingga saat ini. 

4. Meningkatnya kecelakaan lalu lintas yang menyebabkan korbannya ribuan orang mee hingga saat ini. 5. Meningkatnya Penghilangan orang, pembunuhan kilat, keracunan melalui gas dan makanan sampai saat ini cukup banyak sehingga ribuan orang masih terus menjadi korban hingga saat ini. 

6. Banyak Pria dan wanita muda mengalami kemandulan saat ini yang menyebabkan kehilangan ribuan manusia. 

7. Kurangnya sosialisasi ttg Pola hidup sehat dari pemerintah dan kurangnya pemahaman dan kesadaran masyarakat tentang pola hidup sehat itu sehingga ribuan nyawa org Mee menjadi korban melalui penyakit biasa yg sebenarnya dapat di cegah contohnya: Malaria

 8. Sementara model kematian yang telah disebutkan ini masih terus berjalan kini muncul lagi Model yang baru yaitu tabarak lari, keracunan gas dan keracunan makanan, model ini kini sudah banyak menelan korban dan tidak menutup kemungkinan korban akan bertambah lagi.

Kalau Itu Sudah Jalan Dan Terus Menerus Berjalan Maka Tidak Ada Yang Dapat Di Bantahkan Pernyataan Seorang Dokter Senior Berambut Putih Dr.Gunawan Bahwa Suku Mee Sedang Dalam Bahaya Yang Besar Sedang Dalam Ancaman Kepunahan.

Pandangan beliau ini hanya dari sisi kesehatannya belum lagi dengan kematian yg disebabkan oleh factor penyebab lainnya. 

Waspadalah, Hidup Di Dunia Ini Hanya Sekali, Sudah Saatnya Pemerintah Mepago Tangani Rakyatnya Dari Ancaman Kepunahan, Jangan Pernah Berdansa Di Atas Tangisan Darah Rakyatnya.





Oleh : Yusuf Kobepa, Intelektual Muda Mee