![]() |
| ilustrasi :google.com |
Oleh:Yerri kogopa
Artikel-Ada sepasang suami-istri yang berjualan nasi kuning di
sebuah kompleks perumnas 3 waena (dekat kali kampwolker) kiri dari sekret bem
uncen. Umur mereka sudah tidak muda lagi. Sang mungkin sudah berumur lebih dari
70, sedangkan istrinya sekitar 60-an.
Di sekitar mereka ada beberapa gerobak
lain yang juga menjual makanan untuk sarapan pagi. Tapi dari semuanya, hanya
gerobak mereka yang paling sepi. Setiap pagi, dalam perjalanan menuju ke kampus
uncen, saya selalu melewati gerobak mereka yang selalu sepi. Gerobak itu tidak
ada yang istimewa. Cukup sederhana. Jualannya pun standar. Setiap pagi pula,
sepasang suami-istri itu duduk menjaga gerobak mereka dalam posisi yang selalu
sama.
Sang suami duduk di luar gerobak, sementara istrinya di sampingnya. Kalau
ada pembeli, sang suami dengan susah payah berdiri dari kursi (kadang dipapah
istrinya) dan dengan ramah menyapa pembeli. Jika sang pembeli ingin makan di
tempat, sang suami merapikan tempat duduk, sementara istrinya menyiapkan nasi
kuning dan menyodorkan piring itu pada suaminya untuk diberikan pada sang
pelanggan.
Kalau sang pembeli ingin nasi kuning itu dibungkus, sang istri
menyiapkan nasi kuning di kertas pembungkus, dan menyerahkan nasi bungkusan itu
pada suaminya untuk diserahkan pada sang pelanggan. Saat sedang sepi pelanggan,
pasangan suami-istri itu duduk diam. Sesekali jika istrinya agak
terkantuk-kantuk, suaminya mengurut punggung istrinya. Atau jika suaminya
berkeringat, sang istri dengan sigap mengambil sapu tangan dan mengelap
keringat suaminya. Kalau mau jujur, nasi kuning mereka tidak terlalu spesial.
Sangat standar. Tapi, kalau saya mencari sarapan pagi, saya selalu membeli masi
kuning di tempat mereka. Bukan spesial-tidaknya. Tapi lebih karena cinta mereka
yang membuat saya tergerak untuk selalu mampir.
Dalam kesederhanaan, kala susah
dan sedih karena tidak ada pelanggan, mereka tetap bersama. Sang suami tidak
pernah memarahi istrinya yang tidak becus masak. Sang istri pun tidak pernah
marah karena gerakan suaminya yang begitu lamban dalam melayani pelanggan. Dia
bahkan memberi kesempatan suaminya untuk melayani pelanggan. Mereka selalu
bersama, dan saling mendukung, bahkan di saat susah sekali pun. Hingga hari
ini, sudah 2 tahun saya lewati tempat
itu, mereka masih tetap di tempat yang sama, menjual nasi kuning, dan selalu
bersikap sama.
Penuh kesederhanaan. Penuh kasih sayang. Dan saling menguatkan
di saat susah. Jika Anda kesana pasti anda sendiri yang akan merasakan hal itu,
Anda bisa mampir Tidak susah mencari
gerobak mereka yang sederhana. Carilah gerobak yang paling sepi pelanggan.
Mereka berjualan sejak pukul 07.00 hingga siang hari.
Jujur, cinta kasih mereka
membuat makanan yang sederhana itu terasa begitu nikmat. Cinta kasih yang
begitu tulus, sederhana, apa adanya. Bahkan dalam kesusahan sekalipun, mereka
tetap saling menguatkan. Sebuah kisah cinta yang luar biasa. Mungkinkah kita
bisa seperti mereka.
Penulis: Mahasiswa Papua Sedang Kulia Di Jurusan
Hubungan Internasiona (International
Relation)
